terimakasih sudah berkunjung || Klik di sini
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Makalah Logika


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.[1] Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif. Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica
Orang yang pertama kali menggunakan kata logika adalah Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada abad II Hijriyah. Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan Islam. Namun juga mendapat reaksi yang berbeda-beda, sebagai contoh Ibnu Salah dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari logika, Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.


2.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:
  1. Apa yang di maksud dengan logika?
  2. Apa saja obyek – obyek logika?


3.      Tujuan
Adapun tujuan makalah adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui pengertian logika
  2. Mengetahui obyek logika



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Logika
Apabila kita berbicara mengenai logika, maka kita akan mencari pengertian dari asal katanya. Secara harfiah, apabila ditinjau dari asal katanya, Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.[2] Dalam bahasa Arab dikenal dengan kata ‘Mantiq’ yang artinya berucap atau berkata. [3]
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Ilmu harus dibedakan dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas mengetahui yaitu tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh dari itu.
Poespoprojo merumuskan dengan sederhana bahwa ilmu adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yang merupakan satu kesatuan yang tersusun secara sistematis, serta memberikan penjelasan yang dipertanggung jawabkan dengan menunjukkan sebab-sebabnya.
Terdapat beberapa batasan pengertian tentang logika dari beberapa ahli. Menurut Alex Lanur, Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan seperti ini terjadi dengan menunjukkan sebab musabanya.
  Batasan pengertian yang diberikan oleh Alex Lanur, secara singkat diungkapkan oleh Muhammad Zainuddin, bahwa Logika merupakan suatu  Ilmu  tentang dasar  dan metode untuk berfikir  secara benar[4]. Menurut Mundiri Logika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Sedangkan Poespoprojo menuliskannya sebagai ilmu dan kecakapan menalar, berpikir dengan tepat ( the science and art of correct thinking ).
Ketiga pendapat mengenai batasan logika itu pada hakekatnya saling melengkapi. Menurut Muhammad Zainuddin, bahwa Logika merupakan suatu  Ilmu  tentang dasar  dan metode untuk berfikir  secara benar (garis bawah dari penulis). Penekanan batasan logika pada berfikir  secara benar.  Berfikir  secara “benar” selanjutnya dijelaskan oleh Mundiri bahwa  Logika sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. (garis bawah dari penulis). Kriteria benar, penalaran yang betul atau salah, pada dasarnya merupakan suatu penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini disampaikan oleh Alex Lanur. Untuk jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut :

2.      Obyek Logika
Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.[5] Logika bersifat  a priori.  Kebenaran logika tidak dapat ditemukan dan diuji secara empiris tetapi kebenaran diuji secara akal. Obyek Logika menurut Muhammad Zainuddin, terdiri dari :
  1. Obyek materiil : penalaran / cara berpikir
  2. Obyek formal : hukum, prinsip, asas,
  3. Produk : produk berfikir ( konsep, proposisi yang diekspresikan dalam bentuk ungkapan lisan / tulisan / isyarat)[6]
Obyek materiil atau material logika adalah  penalaran / cara berpikir. Menurut Alex Lanur, yang dimaksudkan dengan berpikir disini ialah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir manusia ‘mengolah’, ‘mengerjakan’ pengetahuan yang telah diperolehnya. Dengan ‘mengolah’ dan ‘mengerjakannya’ ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lainnya.
Menurut Poedjawijatna, obyek formal logika ialah mencari jawaban : bagaimana manusia dapat berpikir dengan semestinya.[7] Mencari jawaban atas sesuatu pada dasarnya merupakan suatu proses. Berpikir pada dasarnya merupakan suatu proses dari adanya suatu input melalui proses akan melahirkan output. Selanjutnya oleh Alex Lanur dikatakan bahwa dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan, ketepatannya. Karena itu berpikir lurus, tepat, merupakan obyek formal logika. Kapan suatu pemikiran disebut lurus? Suatu pemikiran disebut lurus, tepat, apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam logikal. Kalau peraturan-peraturan itu ditepati, dapatlah pelbagai kesalahan atau kesesatan dihindarkan. Dengan demikian kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan lebih aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Mundiri menjelaskan bahwa pikiran merupakan perkataan dan logika merupakan patokan, hukum atau rumus berpikir. Logika bertujuan untuk menilai dan menyaring pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta mendapatkan kebenaran terlepas dari segala kepentingan dan keinginan seseorang.[8] Poespoprojo menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari aktivitas berpikir yang menyelidiki pengetahuan yang berasal dari pengalaman-pengalaman konkret, pengalaman sesitivo-rasional, fakta, objek-objek, kejadian-kejadian atau peristiwa yang dilihat atau dialami. Logika bertujuan untuk menganalisis jalan pikiran dari suatu penalaran/pemikiran/penyimpulan tentang suatu hal.
Selanjutnya obyek formal logika adalah hukum, prinsip dan asas. Pada pokoknya asas logika ada tiga yaitu asas identitas, asas pengingkaran dan asas menolak kemungkinan ketiga. Dalam perkembangannya ketiga asas ini mengalami perkembangan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan dalam Bab Tiga tentang asas pemikiran. Di dalam kajian hukum, asas hukum harus diperhatikan dalam setiap pembentukan dan penerapan hukum.
Selanjutnya produk berfikir dapat berupa konsep, proposisi yang diekspresikan dalam bentuk ungkapan lisan / tulisan / isyarat. Di bidang hukum produk dari logika hukum adalah legal concept apabila berupa konsep. Selain itu ketentuan Pasal dalam peraturan perundang-undangan atau Vonis hakim dalam perkara yang sedang dihadapi. Dari uraian di atas dapat diguat suatu gambaran tentang obyek logika dalam skema berikut
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Logika berasal dari bahasa Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.  Arti  logika adalah hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.  Logika merupakan suatu  Ilmu  tentang dasar  dan metode untuk berfikir  secara benar. Obyek Logika, terdiri dari:
  1. Obyek materiil     : penalaran / cara berpikir
  2. Obyek formal       : hukum, prinsip, asas
  3. Produk                 : produk berfikir



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Logika, di update 2 Desember 2007
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Logika, diup date 2 Desember 2007.
[3] Mundiri,  Logika,  Rajawali Press bekerjasama dengan Badan Penerbitan IAIN Walisongo Press, Cetakan keempat, 2000.
[4] Muhammad Zainuddin, Hand out mata kuliah Logika dan Metoda Sains  2006, hal. 3.
[6] Muhammad Zainuddin, op.cit.
[7] Poedjawijatna, Logika Filsafat Berpikir, Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hal. 15.
[8] Mundiri,  op.ci.


Soal-Soal Mata Kuliah Logika


Soal-Soal Mata Kuliah Logika


1.     Apa dan bagaimana: Pengertian putusan  dan penuturan, jelaskan jawaban saudara berikut contoh!
Putusan adalah pengetahuan yang dibentuk dari pengertian-pengertian yang dihubungkan.
Putusan adalah perbuatan manusia yang di dalamnya ia mengakui atau memungkiri sesuatu pernyataan.
Contoh :
·         Kita mempunyai banyak pengertian dan konsep antara lain “pohon“, “mangga”,  “manis”. Kita dapat mengenali objek-objek yang berupa pohon, mangga, rasa manis. Konsep-konsep itu dihubungkan sampai terbentuk pengetahuan baru. Kita hubungkan, (buah) pohon mangga (rasanya) manis.
·         Ia masih harus menempuh ujian.
Penuturan adalah putusan baru yang dibentuk dari putusan-putusan yang telah ada.
Contoh :
·         Putusan yang ditarik dari dua putusan yang tersedia ( silogisme )
Contohnya :
          A adalah manusia         A = B
          Manusia itu mortal      B = C
          Jadi, A itu mortal       A = C
·         Putusan yang ditarik dari satu putusan ( penuturan langsung )
Contohnya :
 Firman Tuhan melarang mencuri. Dari sini langsung diambil keputusan bahwa mencuri jelek. Biasanya peraturan ini dasarnya adalah agama, adat, dan moral.
2.    Apakah ada kaitan antara penuturan dengan:
-          Deduksi
-          Induksi
-          Ada kaitan, karena di dalam penuturan digunakan dua metode yaitu deduksi dan induksi.
-Metode deduksi bila penuturan dilakukan dari putusan umum membentuk putusan khusus.
- Metode induksi bila penuturan sebaliknya, bahannya putusan-putusan yang khusus, lantas   ditarik putusan umum.
3.    Apabila putusan ditarik dari dua putusan yang tersedia, penuturandisebut …..
Jelaskan jawaban saudara berikut contoh!
Apabila putusan ditarik dari dua putusan yang tersedia, penuturan itu disebut silogisme.
     Silogisme merupakan salah satu bentuk induksi yang terkenal dalam logika.
     Contoh :
A adalah manusia                  A = B
Manusia itu mortal                B = C
Jadi, A itu mortal                 A = C
Manusia (B) di sini dipakai sebagai pembanding, istilahnya ialah term tengah (M = Median). Kalimat atau putusan A=B dan B=C itu disebut premis, dari bahasa Latin praemissa yang berarti yang berarti proposition. Karenanya orang sering menyatakan bahwa silogisme ialah metode penuturan yang menggunakan dua premis. A = B disebut premis kecil (minor), B = C premis besar (mayor), premis mayor harus melingkupi premis minor. 
4.    Kebenaran isi proposisi merupakan tugas logika material.
Kebenaran isi proposisi merupakan tugas logika material. Logika material membicarakan soal apakah isinya benar atau salah. Logika material meneliti isi kesimpulan. Logika material memandang bahan atau isi dari apa yang disebut dalam pemikiran, untuk memperoleh kebenaran. Dalam logika material memandang pengertian dan putusan dari bahan dan isinya. Jadi, jelas bahwa tugas logika material adalah menentukan kebenaran isi proposisi.
5.    Apakah saudara sependapat: principium sangat mudah sampai dengan tingkat pemahaman akan tetap pada tingkat pelaksanaan relative sulit. Jelaskan jawaban saudara!
Iya, saya sependapat bahwa principium sangat mudah sampai pada tingkat pemahaman akan tetapi pada tingkat pelaksanaan relatif sulit. Kita mudah memahami sebuah prinsip, prinsip itu memang  mudah tetapi sulit melaksanakannya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Prinsip-prinsip itu sering kali dilanggar manusia. Yang sulit adalah filsafat yang terkandung di dalam prinsip itu serta melaksanakan filsafat itu. Jadi, mudah memahami, sulit memenuhinya.
6.    Jelaskan pemahaman saudara tentang:
Dalam logika: tidak dikenal kebenaran ketiga
          Tidak ada jalan tengah
     Dalam logika tidak dikenal kebenaran ketiga atau tidak ada jalan tengah karena logika hanya memandang suatu masalah secara lurus. Logika tidak memandang suatu masalah dari sudut yang berbeda, dalam logika hanya diterapkan penyelesaian masalah secara lurus.
7.    Jelaskan pemahaman saudara:
-          Membentuk pengertian bearti berlatih berfiki abstrak
-          Perlunya pengertian karena inti pengetahuan terletak pada pengertian di dalam pengetahuan itu
-          Penguasaan pengertian berarti menguasai inti pengetahuan
*  Membentuk pengertian berarti berlatih berpikir abstrak karena dalam pengertian objeknya digambarkan dengan menggunakan simbol berupa kata atau dirumuskan dalam bentuk definisi agar dapat dipahami oleh orang lain. Dalam membentuk pengertian pun dengan cara abstraksi  yaitu dengan cara membentuk gambaran dalam jiwa kita tentang objek itu dengan membuang seluruh ciri aksidensinya. Bila suatu objek kita buang cirri akasidensinya, maka yang tertinggal ialah ciri esensinya. Itulah pengertian objek itu. Jadi, pengertian selalu abstrak.
*  Perlunya pengertian karena inti pengetahuan terletak pada pengertian di dalam pengetahuan itu . Dalam hal ini, dengan pengertian seseorang dapat memahami ilmu pengetahuan yang dipelajari. Pengertian juga merupakan hal yang mencakup umum dalam suatu pengetahuan. Sehingga dengan dengan mengetahui pengertian dari pengetahuan tersebut seseorang dapat memahami pengetahuan tersebut.
*  Penguasaaan pengertian berarti menguasai inti pengetahuan. Inti pengetahuaan  terletak pada pengertian pengetahuan tersebut. Dengan demikian, apabila kita ingin menguasai suatu pengetahuan maka kita harus memahami juga pengertian pengetahuan tersebut. Dengan demikian kita akan mampu menguasai inti pengetahuan tersebut.
8.    Jelaskan pemahaman saudara letak/posisi logika dalam filsafat!
Logika sebagai bagian dari filsafat. Filsafat adalah induk dari segala pengetahuan.
     Logika merupakan  salah satu cabang filsafat yang mempelajari kegiatan berpikir manusia.
     Logika adalah bagian dari filsafat yang mempelajari metode-metode, azas-azas, dan aturan-aturan yang harus dipenuhi untuk dapat berpikir secara tepat, lurus, benar, dan jernih. 


Sumber : yessysca


bunga-bunga


salam blogger, maaf ya lg update, sesuai permintaan teman, saya posting gambar-gambar bunga, sekian,

 















































































 

=MFC= Copyright © 2010 MFC-Servis is Designed by Lasantha, 081 0000000